SATUAN GEOMORFOLOGI
Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi serta penyebab penyebab terbentuknya kondisi kenampakan bumi, dalam ilmu geomorfologi mempercayai bahwa semua fenomena kenampakan bumi atau bentang alam yang ada saat ini dapat dijelaskan secara sistematik. Dengan mempelajari serta mengamati perubahan perubahan yang ada, para ahli geomorfologi dapat memprediksi fenomena apa saja yang telah terjadi sehingga menyebabkan kondisi alam seperti apa yang ada saat ini, seperti keberadaan gunung berapi, adanya palung laut dan letak atau posisi benua. Selain itu para ahli juga dapat memprediksi fenomena apa yang mungkin akan terjadi seperti akan adanya gempa bumi di suatu lokasi.
Topografi yang nampak saat ini terbentuk oleh adanya kekuatan energi yang mampu mengubah bentuk muka bumi. Energi atau tenaga yang mampu mengubah bentuk muka bumi dibagi menjadi dua, yaitu tenaga eksogen dan tenaga endogen. Tenaga endogen merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi yang secara umum dibagi tiga yaitu tektonisme, vulkanisme dan seisme, sedangkan tenaga eksogen merupakan tenaga yang berasal dari luar bumi yang secara umum memilik tiga sumber yaitu atmosfer, air, dan makhluk hidup. Setiap jenis peristiwa tersebut memiliki hasil bentukan topografi yang berbeda berdasarkan tipe gerakan dan kekuatannya dalam memindahkan material material bumi.
Perubahan bentuk muka bumi atau relief yang nampak seperti saat ini tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, perubahan yang terjadi sangat sedikit dalam tiap tahunnya, namun perubahannya terjadi secara terus menerus. Sehingga dalam jangka waktu ribuan hingga jutaan tahun akan terlihat berubahan yang sangat nyata pada kenampakan permukaan bumi. Adapun macam - macam proses yang menyebabkan perubahan bentuk muka bumi sebagai berkut.
Struktural
Stuktural adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika (pergerakan) bumi tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa bumi, dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng. Menurut teori ini, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng besar. Ukuran dan posisi dari tiap-tiap lempeng ini selalu berubah-ubah. Pertemuan antara lempeng-lempeng ini, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan yaitu gempa bumi, gunung berapi, dan pembentukan dataran tinggi.
Bentuklahan yang di sebabkan oleh adanya tenga endogen yaitu tenaga yang bersal dari dalam bumi yang menyebabkan adanyan tekanan pada lempeng atau kerak bumi. Akibat tekanan tersebut, timbulnya lipatan dan patahan. Lipatan terjadi apabila tenaga endogen tersebut tidak melebihi daya tahan material terhadap adanya tekanan sedangkan patahan terjadi apabila tenaga endogen tersebut melebihi besarnya daya tahan material tersebut. Bentuklahan asal struktural adalah sebagai berikut.
Pegunungan blok sesar
Gawir sesar
Pegunungan antiklinal
Perbukitan antiklinal
Perbukitan atau pegunungan sinklinal
Pegunungan monoklinal
Pegunungan atau perbukitan kubah
Pegunungan atau perbukitan plato
Lembah antiklinal
Hogback atau cuest
Vulkanisme
Peristiwa vulkanisme sangat berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut Bumi. Magma adalah campuran batubatuan dalam keadaan cair, liat, dan sangat panas yang terdapat dalam perut Bumi. Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya. Adanya aktivitas ini dapat menyebabkan retakan-retakan dan pergeseran kulit bumi. Penyusupan magma ke dalam litosfer dapat dibedakan menjadi dua
Intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batuan, tetapi tidak mencapai permukaan Bumi.
Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar ke permukaan Bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila tekanan gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit Bumi sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat. Bentuk, ukuran, dan sifat gunung api di permukaan Bumi banyak sekali macamnya. Ada gunung yang puncaknya sangat tinggi sehingga selalu diselimuti salju, ada pula gunung yang puncaknya di bawah permukaan laut. Ini menyebabkan gunung api memiliki banyak tipe.
Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan gunungapi atau vulkanik. Bentuklahan asal gunungapi adalah sebagai berikut.
Kepundan
Kerucut gunungapi
Lereng gunungapi
Kaki gunungapi
Dataran kaki gunungapi
Dataran kaki fluvio gunungapi
Padang lava
Lelehan lava
Aliran lahar
Dataran antar gunungapi
Leher gunungapi
Boca
Kerucut parasiter
Flufial
Fluvial adalah semua proses yang terjadi di alam baik fisika, maupun kimia yang mengakibatkan adanya perubahan bentuk permukaan bumi, yang disebabkan oleh aksi air permukaan, baik yang merupakan air yang mengalir secara terpadu (sungai), maupun air yang tidak terkonsentrasi ( sheet water). Proses fluviatil akan menghasilkan suatu bentang alam yang khas sebagai akibat tingkah laku air yang mengalir di permukaan. Bentang alam yang dibentuk dapat terjadi karena proses erosi maupun karena proses sedimentasi yang dilakukan oleh air permukaan.
Bentuklahan asal fluvial adalah sebagai berikut .
Dataran aluvial
Rawa, danau, rawa belakang
Dataran banjir
Tanggul alam
Teras sungai
Kipas aluvial
Gosong
Delta
Dataran delta
Marine
Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan pesisir yang terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine dapat mencapai puluhan kilometer ke arah darat, tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya. Proses lain yang sering mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya : tektonik masa lalu, berupa gunung api, perubahan muka air laut (transgresi/regresi) dan litologi penyusun. Bentuklahan asal marin adalah sebagai berikut.
Gisik
Dataran pantai
Beting pantai
Laguna
Rataan pasang-surut
Rataan lumpur
Teras marin
Gosong laut
Pantai berbatu
Terumbu
Eolin
Eolin adalah aktivitas dan kemampuan angin untuk mengikis, mengangkut, dan mengendapkan, bahan-bahan material di daerah yang vegetasinya kurang dan wilayah sedimen yang luas. Proses aeolian lebih banyak terjadi di lingkungan kering seperti pembentukan bukit pasir di gurun. Endapan oleh angin terbentuk oleh adanya pengikisan,pengangkutan dan pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh angin. Endapan karena angin yang paling utama adalah gumuk pasir(sandunes),dan endapan debu(loose). Kegiatan angin mempunyai dua aspek utama,yaitu bersifat erosif dan deposisi. Bentuklahan yang berkembang terdahulu mungkin akan berkembang dengan baik apabila di padang pasir terdapat batuan. Endapan angin secara umum dibedakan menjadi gumuk pasir dan endapan debu. Bentuklahan asal eolin adalah sebagai berikut.
Gumuk pasir
Gumuk pasik barkan
Gumuk pasir pararel
Glacial
Proses Glacial adalah perubahan yang terjadi akibat adanya aktiitas gletser, pergerakan glestser akibat perubahan lingkungan dapat mengikis batuan, sehingga dalam waktu yang lama dapat mengubah kondisi atau bentuk topografi. Ada 2 tipe bentang alam glasial yaitu Alpine Glaciation dan Continental Glaciation. Peristiwa ini tidak berkembang di Indonesia yang beriklim tropis ini, kecuali sedikit di puncak Gunung Jaya Wijaya, Papua
Denudasional
Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri proses pengendapan. Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Batuan yang lapuk menjadi soil yang berupa fragmen, kemudian oleh aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke daerah yang lebih landai menuju lereng yang kemudian terendapkan. Pada bentuk lahan asal denudasional, maka parameter utamanya adalah erosi atau tingkat. Derajat erosi ditentukan oleh : jenis batuannya, vegetasi, dan relief. Bentuklahan asal denudasional adalah sebagai berikut.
Pegunungan terkikis
Perbukitan terkikis
Bukit sisa
Perbukitan terisolir
Dataran nyaris
Kaki lereng
Kipas rombakan lereng
Gawir
Lahan rusak
Solusional
Merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping, dan dolomite. Bentuklahan asal solusional adalah sebagai berikut.
Dataran karst
Kubah karst
Lereng perbukitan
Perbukitan sisa karst
Uvala atau polye
Ledok karst
Dolina
Organik
Merupakan satuan bentuk lahan yang terjadi akibat pengaruh dari aktivitas mikroorganisme baik flora maupun vauna. Contoh dari bentuk lahan organik yaitu terumbu karang. Terumbu karang adalah masa endapan kapur, dimana endapan kapur ini terbentuk dari hasil sekresi biota laut pensekresi kapur. Selain itu ada lahan gambut yang merupakan hasil pelapukan sisa-sisa tumbuhan purba yang terdekomposisi secara aerob, karena adanya genangan atau kelembaban yang terlalu tinggi.
Relief daratan merupakan bagian permukaan bumi yang secara tetap tidak tergenang atau tertutup oleh air laut. Berdasarkan tinggi rendahnya, bentuk daratan dapat dibagi menjadi delapan, yaitu
Dataran Tinggi (Plato)
Dataran tinggi adalah jenis daratan pada permukaan bumi yang tingginya lebih dari 500 m di atas permukaan laut. Dataran tinggi terbentuk akibat adanya proses erosi dan sedimentasi. Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan akibat transportasi angin, air, es, hujan, pengaruh gravitasi atau akibat makhluk hidup. Sedangkan sedimentasi adalah proses pengendapan material yang ditransportasikan oleh media angin, air, es, atau gletser di suatu cekungan. Dataran tinggi biasanya memiliki suhu yang sejuk dan tanahnya subur.
Dataran Rendah
Dataran Rendah adalah jenis daratan pada permukaan bumi yang berupa hamparan luas tanah dengan tinggi kurang dari 200 m di atas permukaan laut. Istilah ini diterapkan pada kawasan manapun yang tidak termasuk ke dalam dataran tinggi. Suhu udara pada dataran rendah biasanya berkisar antara 23 derajat celcius sampai dengan 28 derajat celcius. Suhu pada daerah dataran rendah tidak terlalu dingin seperti pada dataran tinggi, tetapi juga tidak terlalu panas. Kondisi ekonomi masyarakat yang tinggi di dataran rendah umumnya lebih makmur dibandingkan yang hidup di dataran tinggi. Dari segi cuaca, dataran rendah memiliki curah hujan yang cukup tinggi. Contoh dataran rendah di Indonesia adalah dataran rendah Surakarta, dataran rendah Semarang, dataran rendah madiun, dan dataran rendah Palembang.
Gunung dan Pegunungan
Gunung adalah jenis daratan yang berupa bentuk tanah menojol diatas wilayah sekitarnya. Suatu daerah menjulang tinggi baru dapat dikatakan gunung apabila ketinggiannya melebihi 610 meter. Ketika mencapai ketinggian tertentu, gunung dapat memiliki lebih dari satu jenis iklim. Sebenarnya tidak ada definisi umum untuk gunung, ketinggian, volume, kecuraman, jarak dan kontinuitas merupakan kriteria utama yang biasanya dijadikan acuan dalam mendefinisikan gunung.
Pegunungan adalah barisan yang terbentuk dari gunung-gunung yang terkait secara geologis. Pegunungan biasanya terbentuk karena gerakan lempeng tektonik melalui proses yang kompleks. Selain di bumi, ternyata gunung juga telah ditemukan pada banyak planet lain dalam sistem tata surya kita.
Bukit dan Perbukitan
Bukit adalah jenis daratan yang memiliki permukaan tanah lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya. Namun ketinggian bukit lebih rendah daripada gunung (kurang dari 600 meter). Namun karena tidak ada definisi umum untuk bukit dan gunung, beberapa bukit ada yang dianggap sebagai gunung, dan demikian pula sebaliknya. Sedangkan perbukitan adalah rangkaian bukit yang berjajar pada suatu daerah yang bukit-bukit tersebut terhubung secara geologis.
Lembah
Lembah merupakan jenis daratan yang lebih rendah daripada permukaan di sekitarnyanya. Biasanya lembah merupakan daerah di sekitar pegunungan dengan struktur memanjang dan dialiri oleh sebuah sungai. Lembah dapat memiliki luas sampai ribuan kilometer persegi.
Jurang (Tebing)
Jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing biasanya terbentuk akibat erosi. Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan akibat transportasi angin, air, es, hujan, pengaruh gravitasi atau akibat makhluk hidup.Tebing dapat ditemukan pada daerah pantai, pegunungan, dan sepanjang sungai. Seringkai tebing terbentuk oleh bebatuan yang tahan terhadap perubahan cuaca.
Ngarai
Ngarai adalah jenis daratan berupa bentang alam menyerupai lembah tetapi memiliki sisi yang hampir tegak lurus dengan permukaan tanah. Keadaan tebing ngarai sangatlah curam. Ngarai terbentuk dari lembah yang terus menerus terkikis akibat berbagai fenomena geografi.
Sungai, Rawa, Danau
Sungai, rawa dan danau merupakan bagian daratan yang dapat ditutupi oleh air. Biasanya ketika kita menyinggung tentang “darat” dalam artian umum, maka sungai, rawa dan danau tidak termasuk ke dalamnya.
Satuan geomorfologi morfometri yaitu pembagian kenampakan geomorfologi yang didasarkan pada kelerengan dan beda tinggi menurut van Zuidam & Cancelado (1979) (Tabel 3.1) dan dalam penentuan pewarnaannya menggunakan klasifikasi bentukan asal berdasarkan van Zuidam (1983) (Tabel 3.2). Berdasarkan hal itu, untuk setiap satuan dicantumkan kode huruf, untuk sub satuan dengan penambahan angka dibelakang. Untuk klasifikasi unit Geomorfologi berdasarkan bentuklahan dalam penelitian ini membahas 4 klasifikasi unit geomorfologi yaitu : bentuklahan asal Denudasional
NO
Relief
Kemiringan Lereng (%)
Beda Tinggi (m)
1
Topografi dataran
0 – 2
<5
2
Topografi bergelombang lemah
3 – 7
5 – 50
3
Topografi bergelombang lemah - kuat
8 – 13
25 – 75
4
Topografi bergelombang kuat – perbukitan
14 – 20
50 – 200
5
Topografi perbukitan tersayat kuat
21 -55
200 – 500
6
Topografi tersayat kuat pegunungan
56 – 140
500 – 1000
7
Topografi pegunungan
>140
>1000
Tabel 1.1 Van Zuidanm dan Cancelado (1979)
NO
Genesa
Pewarnaa
1
Denudasional
Coklat
2
Struktural (S)
Ungu
3
Vulkanik (V)
Merah
4
Fluival (F)
Biru muda
5
Marine (M)
Biru tua
6
Kars (K)
Orange
7
Glasial (G)
Biru muda
8
Eolion (E)
Kuning
Tabel 1.2 Klasifikasi bentukan asal berdasarkan genesa dan sistem pewarnaan (Van Zuidam, 1983)
Kode
Unti
Karakteristik
D1
Denudational slopes and hills
Lereng landai – curam menengah (topografi bergelombang kuat) tersayat lemah – menengah.
D2
Denudational slopes and hills
Lereng curam menengah – curam (topografi bergelombang kuat – berbukit), tersayat menegah tajam.
D3
Denudational hills and montain
Lereng berbukit curam – sangat curam hingga topografi pegunungan, tersayat menengah – tajam.
D4
Residual hills
Lereng berbukit – sangat curam, tersayat menengah. Monadnocks : memanjang, curam, bentukan yang tidak teratur.
D5
Paneplains
Hampir datar, topografi bergelombang kuat, tersayat lemah - menengah.
D6
Upwarped paneplains plateu
Hampir datar, topografi bergelombang kuat, tersayat lemah - menengah.
D7
Footslopes
Lereng relatif pendek, mendakati horisontal hingga landai, hampir datar, topografi bergelombang, normal – tersayat lemah
D8
Piedmonts
Lereng landai menengah, topografi bergelombang kuat pada kaki atau perbukitan dan zona pegunungan yang terangkat, tersayat menengah.
D9
Scarps
Lereng curam – sangat curam, tersayat lemah – menengah.
D10
Scree slopes and fans
Landai – curam, tersayat lemah – menengah.
D11
Area with several mass movement
Tidak teratur, lereng menengah curam, topografi bergelombang – berbukit, tersayat menengah (slides, slump, and flows).
D12
Badlands
Topografi dengan lereng curam – sangat curam, tersayat menengah.
Tabel 1.3 Klasifikasi unit geomorfologi bentuk lahan asal denudasional (van Zudiam,1983)
Kode
Unit
Karakteristik
K1
Karst Plateaus
Topografi bergelombang – bergelombang kuat dengan sedikit depresi hasil pelarutan dan lembah mengikuti kekar.
K2
Karst/Denudation Slope and Hills
Topografi dengan lereng menengah – curam, bergelombang kuat – berbukit, permukaan tak teratur dengan kemungkinan dijumpai lapis, depresi hasil pelarutan dan sedikit lembah kering.
K3
Labyrint or Starkarst Zone
Topografi dengan lereng curam – sangat curam, permukaan sangat kasar dan tajam dan depresi hasil pelarutan yang tak teratur.
K4
Conical Karst Zone
Topografi dengan lereng menengah – sangat curam, bergelombang kuat – berbukit, perbukitan membundar bentuk conic & pepino & depresi polygonal (cockpits & glades).
K5
Tower Karst Hills or Hills Zone/Isolated Limestone Remnant
Perbukitan terisolir dengan lereng sangat curam – amat sangat curam (towers, hums, mogots atau haystacks).
K6
Karst Aluvium Plains
Topografi datar – hampir datar mengelilingi sisa batugamping terisolasi / zona perbukitan menara karst atau perbukitan normal atau terajam lemah.
K7
Karst Border/Marginal Plain
Lereng hampir datar – landai, terajam dan jarang atau sangat jarang banjir.
K8
Major Uvala/Glades
Sering ditamukan depresi polygonal atau hasil pelarutan dengan tepi lereng curam menengah – curam, jarang banjir.
K9
Poljes
Bentuk depresi memanjang dan luas, sering berkembang pada sesar dan kontak litologi, sering banjir oleh air sungai, air hujan & mata air karst.
K10
DryValleys (Major)
Lembah dengan lereng landai curam – menengah, sering dijumpai sisi lembah yang curam – sangat curam, depresi hasil pelarutan (ponors) dapat muncul.
K11
Karst Canyons/Collapsed Valleys
Lembah berlereng landai curam – menengah dengan sisi lembah sangat curam – teramat curam, dasar lembah tak teratur dan jembatan dapat terbentuk.
Tabel 1.4 Klasifikasi unit geomorfologi bentuklahan asal karst (van Zuidam, 1983)
Kode
Unit
Karakteristik
S1
Tersayat
Topografi bergelombang sedang hingga bergelombang kuat dengan pola aliran berhubungan dengan kekar, dan patahan
S2
Berbentuk linear
Topografi bergelombang sedang hingga bergelombang kuat dengan pola aliran berkaitan dengan singkapan batuan berlapis
S3
Tersayat kuat
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan dengan pola aliran berkaitan dengan kekar dan patahan
S4
Berbentuk liniear, tersayat kuat
Topografi perbukitan hingga pegunungan denganpola aliran berkaitan dengan singkapan batuan berlapis
S5
Mesag/dataran tinggi dikontrol struktur
Topografi datar hingga bergelombang lemah di atas plateau dan perbukitan di bagian tebing
S6
Cuestas
Bergelombang lemah di bagian lereng belakang dan perbukitan pada lereng depan. Tersayat lemah
S7
Hogbacks dan flatirons
Tinggian berupa topografi perbukitan tersayat.
S8
Structural denudational terraces
Topografi bergelombang lemah hingga perbukitan. Tersayat.
S9
Perbukitan antiklin dan sinklin
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan.
S10
kubah/perbukitan sisa
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan.
S11
Dykes
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan. Tersayat.
S12
Tebing sesar
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan. Tersayat.
S13
Depresi graben
Topografi bergelombang lemah hingga bergelombang kuat.
S14
Tinggian Horst
Topografi bergelombang kuat hingga perbukitan.
Tabel 1.5 Klasifikasi unit geomorfologi bentuklahan asal struktural (van Zuidam, 1983)
Kode
Unit
Karakteristik
F1
Rivers beds
Hampir datar, topografi teratur dengan garis batas permukaan air yang bervariasi mengalami erosi dan bagian yang terakumulasi.
F2
Lakes
Tubuh, air
F3
Flood plains
Hampir datar, topografi tidak teratur, banjir musiman.
F4
Fluvial levees, alluvial ridges and point bar
Topografi dengan lereng landai, berhubungan erat dengan peninggian dasar oleh akumulasi fluvial.
F5
Swamps, fluvial basin
Topografi landai-hampir landai (swamps, tree vege-tation)
F6
Fluvial terraces
Topografi dengan lereng hampir datar-landai, tersayat lemah-menengah
F7
Active alluvial fans
Lereng landai-curam menengah, biasanya banjir dan berhubungan dengan peninggian dasar oleh akumulasi fluvial.
F8
Inactive alluvial fans
Lereng curam-landai menengah, jarang banjir dan pada umumnya tersayat lemah-menengah.
F9
Fluvial-deltaic
Topografi datar tidak teratur lemah, oleh karena banjir dan peninggian dasar oleh fluvial, dan pengaruh marine.
Tabel 1.6 Klasifikasi unit geomorfologi bentuklahan asal fluvial (van Zuidam, 1983)
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2016. Satuan Geomorfologi. Thebestteam0014.blogspot.co.id/2016/05/satuan-geomorfologi.html. Diakses pada 10 September 2017
Anonim. 2017. Relief Permukaan Bumi : Pengertian dan Klasifikasi. www.ilmudasar.com/2017/07/Pengertian-Klasifikasi-Jenis-Proses_Terbentuknya-Relief-Permukaan-Bumi-adalah..html. Diakses pada 10 September 2017
Reski Ayu. 2013. Bentuk Lahan Geomorfologi. http://reskiayumagfira.blogspot.co.id. Diakses pada 10 September 2017
www.upnjatim.ac.id
agrotek.upnjatim.ac.id
Selasa, 12 September 2017
Senin, 15 Mei 2017
LAHAN RAWAN LONGSOR WILAYAH WONOSALAM
Akhir-akhir ini banyak wilayah di Indonesia khususnya pulau Jawa terjadi tanah longsor, hal ini tidak lepas dari kesalahan manusia yang kurang bijak dalam memanfaatkan tanah. Saat ini banyak lahan didaerah bukit dan kaki gunung yang seharusnya merupakan wilayah hutan sudah diubah menjadi kawasan pertanian, sehingga sering terjadi bencana tanah longsor karena hilangnya vegetasi pohon yang mampu menahan tanah dan menyerap air.
Sebenarnya bencana tanah longsor dapat diantisipasi dengan memanfaatkan sistem informasi geografis (SIG), dengan membuat rancangan SIG kita dapat mengetahui area-area yang ada di Wonosalam yang rawan terjadi longsor berdasarkan data-data yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk mememukan atau membuat informasi tersebut.
Pembuatan SIG bertujuan untuk mengetahui wilayah-wilayah yang rawan terjadi longsor di wilayah Wonosalam, guna diantisipasi untuk dilakukan upaya pencegahan dan rehabilitasi lahan. Sehingga peristiwa bencana tanah longsor dapat diminimalisir. Rancangan ini dapat digunakan oleh pihak perhutani wilayah setempat untuk mempermudah pemeliharaan dan rehabilitasi lahan yang rawan akan terjadinya bencana tanah longsor.
Tahap awal yang dibutuhkan dalam membuat rancangan SIG adalah mungumpulkan data, karena pada dasarnya dalam membuat rancangan SIG yang dilakukan adalah mengelola data-data yang saling mendukung yang disatukan atau dikaitkan menjadi sebuah kesimpulan atau informasi baru. Semakin banyak dan lengkap data yang didapatkan maka akan semakin akurat pula kesimpulan atau informasi yang didapatkan.
Data yang dibutuhkan dalam membuat rancangan SIG yaitu berupa peta wilayah wonosalam kota jombang peta dapat dapat berupa peta cetak maupun peta web yang disediakan google melalui google maps API yang bisa kita dapatkan secara gratis, dan data yang merupakan faktor berpengeraruh terhadap longsor, diantaranya kemiringan lereng, vegetasi, curah hujan. Data kemiringan lereng dinyatakan dalam satuan derajad, data curah hujan yang digunakan yakni data curah hujan bulanan selama 10 tahun, data vegetasi yang digunakan yaitu kerapatan dan jenis tanamannya yang tumbuh di area tersebut
Data curah hujan bisa didapatkan melalui lembaga yang berwenang yaitu BMKG dalam melakukan pengambilan data. Untuk data kemiringan lahan yang belum tersedia dapat dilakukan pengambilan data dengan cara pengukuran melalui perhitungan sederhana pada jumlah dan jarak kontur peta rupa bumi wilayah Wonosalam. Sedangkan data vegetasi lahan dapat diambil secara langsung dengan melakukan pengamatan pada lapangan baik tanpa alat atau mengguakan alat penginderaan seperti drone atau melalui gradasi warna peta rupabumi bakosurtanal wilayah wonosalam, namun pengamatan secara langsung lebih disarankan karena akan didapatkan data yang lebih akurat.
Pengambilan data hanya sebatas wilayah dengan nilai faktor tertentu misalkan wilayah yang memiliki kemiringan 30 derajad. Hal ini dapat dilakukan karena kemiringan lereng dianggap sebagai faktor utama terjadinya erosi yang merupakan awal tanah longsor sehingga kedudukannya dapat dijadikan sebagai patokan yang membatasi faktor lainnya. Selanjutnya setiap wilayah yang memiliki kemiringan wilayah 30 derajad atau lebih dapat di titik atau mark untuk diambil koordinatnya.
Perlu diketahui bahwa data yang diperoleh tidak bersifat tetap, namun akan selalu berubah setiap saat meskipun dalam rentang waktu yang relatif lama. Maka diperlukan pembaruan data dalam rentang waktu tertentu misal lima atau sepuluh tahun sekali, sehingga informasi akhir yang diberikan dapat mendekati kebenaran dan dapat dipertanggung jawabkan.
Setelah data telah dikumpulkan tahap berikutnya yakni mengelola data, dalam membuat rancangan SIG pengelolaan data merupakan pekerjaan inti yang akan menetukan hasil akhir tergantung pada metode dan kemahiran orang yang mengoperasikan.
Semua data yang didapatkan akan dimasukkan dalam database dan diberikan bobot nilai. Bobot nilai yang diberikan dapat berupa bilangan bulat maupun desimal, misalkan bobot nilai akumulasi tertinggi adalah 10 maka nilai akan dibagi berdasarkan faktor yang paling mempengaruhi. Nilai teringgi yang dapat diberikan yaitu 5 utnuk kemiringan lereng, 2 untuk curah hujan, dan 3 utnuk vegetasi. Setiap faktor bobot nilai yang didapat dalam satu titik wilayah selanutnya akan akumulasi sehingga menunjukkan indeks kerawanan wilayah tersebut yang paling berpotensi terjadi longsor. Data yang telah lengkap selanjutnya dapat diurutkan sesuai tingkat indeks yang didapat pada masing-masing area mulai dari yang paling tinngi atau yang paling rendah.
Selain dirutkan berdasarkan tinngi rendahnya, akumulasi bobot nilai juga dapat dikategorikan menjadi beberapa kelas seperti area sangat rawan, area rawan, dan area berpotensi sehingga pengambilan keputusan atau tindakan yang akan dilakukan dapat lebh tepat dan spesifik pada suatu area tertentu.
Tahap terakhir dalam membuat rancangan SIG yaitu penyajian informasi yang mudah dibaca dan dipahami oleh orang lain yang melihatnya. Meskipun bukanlah hal yang inti dalam rancangan SIG namun sajian akan dijadikan sebagai penilaian bagus tidaknya sebuah rancangan.
Data dalam database dimasukkan pada peta sesuai titik kordinat masing-masing wilayah kemudian pada peta akan mucul titik-titik dimana area lahan yang rawan terjadi bencana tanah longsor. Titik-titik pada peta juga dapat diberikan gradasi warna, misal dari warna muda atau cerah hingga warna tua atau gelap sehingga informasi lebih mudah dibaca pada peta dengan melihat warna titik-titik yang mendandakan area rawan longsor beserta data yang ada didalamnya.
Setelah semua pengelolaan data selesai dapat ditarik kesimpulan dari penggabungan data yaitu tingkat kerawanan atau daerah yang paling rawan hingga area berpotensi terjadi bencana tanah longsor di wilayah Wonosalam berdasarkan faktor kemiringan lahan, curah hujan, dan vegetasi di area tersebut.
Akhir-akhir ini banyak wilayah di Indonesia khususnya pulau Jawa terjadi tanah longsor, hal ini tidak lepas dari kesalahan manusia yang kurang bijak dalam memanfaatkan tanah. Saat ini banyak lahan didaerah bukit dan kaki gunung yang seharusnya merupakan wilayah hutan sudah diubah menjadi kawasan pertanian, sehingga sering terjadi bencana tanah longsor karena hilangnya vegetasi pohon yang mampu menahan tanah dan menyerap air.
Sebenarnya bencana tanah longsor dapat diantisipasi dengan memanfaatkan sistem informasi geografis (SIG), dengan membuat rancangan SIG kita dapat mengetahui area-area yang ada di Wonosalam yang rawan terjadi longsor berdasarkan data-data yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk mememukan atau membuat informasi tersebut.
Pembuatan SIG bertujuan untuk mengetahui wilayah-wilayah yang rawan terjadi longsor di wilayah Wonosalam, guna diantisipasi untuk dilakukan upaya pencegahan dan rehabilitasi lahan. Sehingga peristiwa bencana tanah longsor dapat diminimalisir. Rancangan ini dapat digunakan oleh pihak perhutani wilayah setempat untuk mempermudah pemeliharaan dan rehabilitasi lahan yang rawan akan terjadinya bencana tanah longsor.
Tahap awal yang dibutuhkan dalam membuat rancangan SIG adalah mungumpulkan data, karena pada dasarnya dalam membuat rancangan SIG yang dilakukan adalah mengelola data-data yang saling mendukung yang disatukan atau dikaitkan menjadi sebuah kesimpulan atau informasi baru. Semakin banyak dan lengkap data yang didapatkan maka akan semakin akurat pula kesimpulan atau informasi yang didapatkan.
Data yang dibutuhkan dalam membuat rancangan SIG yaitu berupa peta wilayah wonosalam kota jombang peta dapat dapat berupa peta cetak maupun peta web yang disediakan google melalui google maps API yang bisa kita dapatkan secara gratis, dan data yang merupakan faktor berpengeraruh terhadap longsor, diantaranya kemiringan lereng, vegetasi, curah hujan. Data kemiringan lereng dinyatakan dalam satuan derajad, data curah hujan yang digunakan yakni data curah hujan bulanan selama 10 tahun, data vegetasi yang digunakan yaitu kerapatan dan jenis tanamannya yang tumbuh di area tersebut
Data curah hujan bisa didapatkan melalui lembaga yang berwenang yaitu BMKG dalam melakukan pengambilan data. Untuk data kemiringan lahan yang belum tersedia dapat dilakukan pengambilan data dengan cara pengukuran melalui perhitungan sederhana pada jumlah dan jarak kontur peta rupa bumi wilayah Wonosalam. Sedangkan data vegetasi lahan dapat diambil secara langsung dengan melakukan pengamatan pada lapangan baik tanpa alat atau mengguakan alat penginderaan seperti drone atau melalui gradasi warna peta rupabumi bakosurtanal wilayah wonosalam, namun pengamatan secara langsung lebih disarankan karena akan didapatkan data yang lebih akurat.
Pengambilan data hanya sebatas wilayah dengan nilai faktor tertentu misalkan wilayah yang memiliki kemiringan 30 derajad. Hal ini dapat dilakukan karena kemiringan lereng dianggap sebagai faktor utama terjadinya erosi yang merupakan awal tanah longsor sehingga kedudukannya dapat dijadikan sebagai patokan yang membatasi faktor lainnya. Selanjutnya setiap wilayah yang memiliki kemiringan wilayah 30 derajad atau lebih dapat di titik atau mark untuk diambil koordinatnya.
Perlu diketahui bahwa data yang diperoleh tidak bersifat tetap, namun akan selalu berubah setiap saat meskipun dalam rentang waktu yang relatif lama. Maka diperlukan pembaruan data dalam rentang waktu tertentu misal lima atau sepuluh tahun sekali, sehingga informasi akhir yang diberikan dapat mendekati kebenaran dan dapat dipertanggung jawabkan.
Setelah data telah dikumpulkan tahap berikutnya yakni mengelola data, dalam membuat rancangan SIG pengelolaan data merupakan pekerjaan inti yang akan menetukan hasil akhir tergantung pada metode dan kemahiran orang yang mengoperasikan.
Semua data yang didapatkan akan dimasukkan dalam database dan diberikan bobot nilai. Bobot nilai yang diberikan dapat berupa bilangan bulat maupun desimal, misalkan bobot nilai akumulasi tertinggi adalah 10 maka nilai akan dibagi berdasarkan faktor yang paling mempengaruhi. Nilai teringgi yang dapat diberikan yaitu 5 utnuk kemiringan lereng, 2 untuk curah hujan, dan 3 utnuk vegetasi. Setiap faktor bobot nilai yang didapat dalam satu titik wilayah selanutnya akan akumulasi sehingga menunjukkan indeks kerawanan wilayah tersebut yang paling berpotensi terjadi longsor. Data yang telah lengkap selanjutnya dapat diurutkan sesuai tingkat indeks yang didapat pada masing-masing area mulai dari yang paling tinngi atau yang paling rendah.
Selain dirutkan berdasarkan tinngi rendahnya, akumulasi bobot nilai juga dapat dikategorikan menjadi beberapa kelas seperti area sangat rawan, area rawan, dan area berpotensi sehingga pengambilan keputusan atau tindakan yang akan dilakukan dapat lebh tepat dan spesifik pada suatu area tertentu.
Tahap terakhir dalam membuat rancangan SIG yaitu penyajian informasi yang mudah dibaca dan dipahami oleh orang lain yang melihatnya. Meskipun bukanlah hal yang inti dalam rancangan SIG namun sajian akan dijadikan sebagai penilaian bagus tidaknya sebuah rancangan.
Data dalam database dimasukkan pada peta sesuai titik kordinat masing-masing wilayah kemudian pada peta akan mucul titik-titik dimana area lahan yang rawan terjadi bencana tanah longsor. Titik-titik pada peta juga dapat diberikan gradasi warna, misal dari warna muda atau cerah hingga warna tua atau gelap sehingga informasi lebih mudah dibaca pada peta dengan melihat warna titik-titik yang mendandakan area rawan longsor beserta data yang ada didalamnya.
Setelah semua pengelolaan data selesai dapat ditarik kesimpulan dari penggabungan data yaitu tingkat kerawanan atau daerah yang paling rawan hingga area berpotensi terjadi bencana tanah longsor di wilayah Wonosalam berdasarkan faktor kemiringan lahan, curah hujan, dan vegetasi di area tersebut.
Senin, 06 Maret 2017
MENGENAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
Definisi
Sistem informasi geografis (SIG) adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan dan mengelola data yang berkaitan dengan wilayah atau permukaan bumi. Definisi SIG selalu berkembang sesuai dengan perubhan dan dari berbagai sudut pandangnya, secara umum SIG di bagi menjadi dua pengertian, yaitu sistem informasi dan informasi geografi.
Sistem informasi adalah rangkaian kerja untuk mendapatkan informasi dengan komponen berupa data, perangkat keras, perangkat lunak, dan manusia, sehingga dapat digunakan dalam mengambil keputusan. Informasi geografi adalah kumpulan data yang berkaitan dengan wilayah permukaan bumi yang disatukan menjadi sebuah informasi baru.
GIS merupakan sistem yang membatu manusia dalam mementukan atau membuat keputusan, sejatinya GIS bukanlah sistem yang dapat membuat keputusan secara otomatis namun GIS merupakan sarana untuk mengumpulkan, memanipulasi dan menganalisis dari kumpulan data atau fakta yang berbasis pemetaan guna mendukung proses pengambilan keputusan.
Komponen SIG
Dalam SIG terdapat beberapa komponen yang diperlukan, yang pertama adalah komponen manusia yang merupakan inti dari SIG yaitu orang yang merencanakan dan mengoperasikan sistem informasi geografi dalam pekerjaanya. Suatu proyek SIG harus dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang SIG.
Komponen ke dua adalah perangkat keras (hardware), yaitu perangkat fisik dari sistem komputer yang mendukung analisis geografi dan pemetaan serta digunakan untuk memasukkan, memanipulasi dan mengelola data. Perangkat keras SIG dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan proses yaitu : - Input data berupa mouse, digitizer, scanner.
Olah databerupa harddisk, processor, RAM, VGACard
Output data berupa plotter, printer, screening
Komponen ketiga adalah perangkat lunak (Software), yaitu aplikasi atau program-program komputer yang digunakan dalam pengoperasian SIG, dalam mengolah data menjadi sebuah informasi. Beberapa aplikasi yang biasa digunakan dalam SIG antara lain Arc/info, Arc View, Map Info, RZV, ERDAS , ILWIS.
Data merupakan bahan dasar dalam SIG untuk dikelola menjadi sebuah informasi yang baru, data yang digunakan juga harus akurat. Dalam SIG dikenal dengan istilah data spasial, dan data Non Spasial atau data attribut. Data spasial merupakan data yang terkait dengan data keruangan atau proyeksi di atas permukaan bumi melalui berupa foto udara, koordinat, citra satelit beserta fenomena yang terjadi di dalamnya baik oleh perbuatan manusia maupun terjadi secara alami. Data spasial umumnya presentasikan dalam bentuk grafik, peta, gambar, dengan format digital dan disimpan dengan format x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.
Data atribut adalah data berbentuk tabel yang berisitentang informasi-informasi yang dimiliki oleh banyak objek dalam data spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi dengan data spasial.
Komponen yang terakhir adala metode atau tahapan yang dilakukan dalam pengoperasian SIG mulai dari memperoleh data, memanipulasi hingga akhir yaitu didapatkan sebuah informasi yang baru. SIG yang baik akan tergantung pada aspek desain dan aspek realnya.
Pemanfaatan
Sistem Informasi Geografi sudah dikenal, dan telah banyak digunakan oleh ahli geologi terutama dalam pembuatan peta, namun sejatinya sistem informasi geografi tidak hanya digunakan dalam memproyeksikan bentuk permukaan bumi melainkan dapat mengolah data keruangan sehingga didapatkan sebuah informasi yang berbeda dari data yang masih terpisah-pisah.
Selain pemanfaatannya di bidang geografi, sistem informasi geografi juga sudah diaplikasikan dalam berbagai bidang salah satunya dalam bidang pendidikan. Pembangunan pendidikan nasional tidak dapat lepas dari perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun global. Pendidikan harus dibangun dalam keterkaitannya secara fungsional dengan berbagai bidang kehidupan, yang masing-masing memiliki persoalan dan tantangan yang semakin kompleks. Dalam lima tahun ke depan, pembangunan pendidikan nasional harus dilihat dalam perspektif pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Dalam perspektif demikian, pendidikan harus lebih berperan dalam membangun seluruh potensi manusia agar menjadi subyek yang berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Dengan mengetahui apa itu SIG dan manfaat diterapkannya SIG serta komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat SIG, dapat kita ketahui bahwa peran SIG dalam pendidikan adalah sebagai berikut :
Pemerataan dan perluasan akses pendidikan
Peran ini dapat dilakukan dengan adanya pemetaan sekolah (School mapping) yang apabila disinergikan dengan pemanfaatan GIS, akan diperoleh suatu sistem yang mampu mendata daerah atau wilayah mana saja yang belum terlayani pendidikan secara baik untuk diberikan solusi (seperti : pemberian block grant). Sehingga program-program yang direncanakan bisa tepat sasaran. Di samping itu penentuan letak sekolah baru dapat dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa data (penduduk usia sekolah) dengan peta (peta jaringan jalan, peta tata guna lahan, peta kawasan industri) sehingga dapat diperoleh perencanaan pendidikan yang komperehensif. Fungsi overlay, query, buffer yang dimiliki SIG akan sangat membantu pada proses ini. Dalam hal ini terbukti pada kasus Program Rehabilitasi dan Rekontruksi di Aceh pasca gempa bumi dan gelombang tsunami.
Peningkatan mutu pendidikan
Dengan program aplikasi SIG ini maka dapat memberikan kemudahan pada siswa dalam belajar geografi. Apalagi SIG sekarang adalah sebuah layanan public yang opensource atau gratis yang bisa diperoleh setiap saat melalui internet, sehingga dengan demikian SIG dapat diakses oleh seluruh siswa dimana saja berada. Dimana Geografi adalah ilmu yang mempelajari permukaan bumi dengan menggunakan pendekatan keruangan, ekologi, dan kompleks wilayah. Adapun fenomena yang diamati adalah dinamika dari adanya perkembangan dan pembangunan wilayah yang ada dalam kehiduapam masyarakat, misalnya informasi mengenai letak dan persebaran dari kejadian-kejadian alamiah maupun fenomena terdapatnya sumberdaya. Ketersediaan data yang bersifat geografis adalah merupakan arti dari sebuah keruangan, yang mana hal ini akan memudahkan dalam bebagai macam kepentingan. Pengetahuan mengenai informasi geografi penting dimiliki oleh masyarakat luas sebagai bagian pemahaman mengenai sumberdaya maupun kerentanan bencana yang mungkin terjadi di sekitarnya
Perencanaan pendidikan yang diselaraskan atau sejalan dengan potensi dan pengembangan wilayah
Dengan menngunakan aplikasi program GIS, maka dapat ditentukan potensi lokal apa saja yang dapat dikembangkan oleh suatu wilayah. Dan untuk menyediakan SDM yang bertugas mengembangkan wilayah, pembangunan pendidikan harus disesuaikan dengan potensi wilayah agar output yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mengolah potensi tersebut, terutama di bidang pendidikan dapat menentukan kurikulum dan muatan lokal apa yang akan dimasukan dalam pengajaran di sekolah dan penentuan lokasi serta jenis sekolah kejuruan apa yang cocok bagi daerah tersebut. Misalkan penentuan lokasi dan jenis sekolah menengah kejuruan perikanan dan kelautan bagi wilayah masyarakat pesisir laut dan sekolah pertanian dan perkebunan menengah atas (SPP-MA) bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkebunan atau dilereng pegunungan.
Kegiatan Evaluasi dan Monitoring Pendidikan.
Dengan GIS, evaluasi dan monitoring pendidikan sangat mudah dilakukan. (seperti : Pembagian daerah binaan/ rayonisasi untuk memudahkan pengawasan atau pemerataan layanan pendidikan sehingga tidak ada kesenjangan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain).
Pendukung pelaksanaan kegiatan Otonomi pendidikan di masing-masing daerah sesuai dengan karateristik dan potensi lokal.
Dengan diberlakukannya tentang undang-undang otonomi daerah, maka penerapan program GIS ini dapat memberikan wadah dan jalan bagi pemerintah daerah untuk berkreasi sesuai dengan kebutuhan daerahnya bagi sifat dan karateristik pendidikan di setiap daerahnya
Pendukung pelaksanaan UU. No 20 Tahun 2003 (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional).
Berkaitan dengan luasnya wilayah bangsa Indonesia, maka dengan menggunakn program alikasi GIS ini akan dapat mendukung pelaksanan sistem pendidikan nasional, yakni dengan maksud bahwa pendidikan dapat dilaksanakan tidak hannya dengan pendidikan formal, tetapi dapat juga dilaksanakan di luar sekolah atau tempat lain yang dianggap menungkinkan dijangkau oleh seluruh lapisan masayarakat pada suatu daerah, sesuai dengn karateristik daerah tersebut.
Wadah Penanaman Wawasan Kebangsaan Sejak Usia Dini.
Dengan diperkenalkannya GIS di dunia pendidikan baik itu dapat wujud awal yakni pelajaran geografi, maka dapat dijadikan sebagai wadah dalam penanaman wawasan kebangsaan bagi setiap warga negara sejak dini mungkin yakni melalui semua jenjang dan jalur pendidikan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Hartono,rudi.2013.Komponen sistem informasi geografi
Gurugeobandung.blogspot.com/2013/09/kompone-sistem-informasi-geografi-sig.html?m=1
Dani. 2011.PEMANFAATAN SIG DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Danisihwinunggal.blogspot.com/2011/12/pemanfaatan-sig-dalam-dunia-pendidikan.html?m=1
Definisi
Sistem informasi geografis (SIG) adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan dan mengelola data yang berkaitan dengan wilayah atau permukaan bumi. Definisi SIG selalu berkembang sesuai dengan perubhan dan dari berbagai sudut pandangnya, secara umum SIG di bagi menjadi dua pengertian, yaitu sistem informasi dan informasi geografi.
Sistem informasi adalah rangkaian kerja untuk mendapatkan informasi dengan komponen berupa data, perangkat keras, perangkat lunak, dan manusia, sehingga dapat digunakan dalam mengambil keputusan. Informasi geografi adalah kumpulan data yang berkaitan dengan wilayah permukaan bumi yang disatukan menjadi sebuah informasi baru.
GIS merupakan sistem yang membatu manusia dalam mementukan atau membuat keputusan, sejatinya GIS bukanlah sistem yang dapat membuat keputusan secara otomatis namun GIS merupakan sarana untuk mengumpulkan, memanipulasi dan menganalisis dari kumpulan data atau fakta yang berbasis pemetaan guna mendukung proses pengambilan keputusan.
Komponen SIG
Dalam SIG terdapat beberapa komponen yang diperlukan, yang pertama adalah komponen manusia yang merupakan inti dari SIG yaitu orang yang merencanakan dan mengoperasikan sistem informasi geografi dalam pekerjaanya. Suatu proyek SIG harus dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang SIG.
Komponen ke dua adalah perangkat keras (hardware), yaitu perangkat fisik dari sistem komputer yang mendukung analisis geografi dan pemetaan serta digunakan untuk memasukkan, memanipulasi dan mengelola data. Perangkat keras SIG dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan proses yaitu : - Input data berupa mouse, digitizer, scanner.
Olah databerupa harddisk, processor, RAM, VGACard
Output data berupa plotter, printer, screening
Komponen ketiga adalah perangkat lunak (Software), yaitu aplikasi atau program-program komputer yang digunakan dalam pengoperasian SIG, dalam mengolah data menjadi sebuah informasi. Beberapa aplikasi yang biasa digunakan dalam SIG antara lain Arc/info, Arc View, Map Info, RZV, ERDAS , ILWIS.
Data merupakan bahan dasar dalam SIG untuk dikelola menjadi sebuah informasi yang baru, data yang digunakan juga harus akurat. Dalam SIG dikenal dengan istilah data spasial, dan data Non Spasial atau data attribut. Data spasial merupakan data yang terkait dengan data keruangan atau proyeksi di atas permukaan bumi melalui berupa foto udara, koordinat, citra satelit beserta fenomena yang terjadi di dalamnya baik oleh perbuatan manusia maupun terjadi secara alami. Data spasial umumnya presentasikan dalam bentuk grafik, peta, gambar, dengan format digital dan disimpan dengan format x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.
Data atribut adalah data berbentuk tabel yang berisitentang informasi-informasi yang dimiliki oleh banyak objek dalam data spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi dengan data spasial.
Komponen yang terakhir adala metode atau tahapan yang dilakukan dalam pengoperasian SIG mulai dari memperoleh data, memanipulasi hingga akhir yaitu didapatkan sebuah informasi yang baru. SIG yang baik akan tergantung pada aspek desain dan aspek realnya.
Pemanfaatan
Sistem Informasi Geografi sudah dikenal, dan telah banyak digunakan oleh ahli geologi terutama dalam pembuatan peta, namun sejatinya sistem informasi geografi tidak hanya digunakan dalam memproyeksikan bentuk permukaan bumi melainkan dapat mengolah data keruangan sehingga didapatkan sebuah informasi yang berbeda dari data yang masih terpisah-pisah.
Selain pemanfaatannya di bidang geografi, sistem informasi geografi juga sudah diaplikasikan dalam berbagai bidang salah satunya dalam bidang pendidikan. Pembangunan pendidikan nasional tidak dapat lepas dari perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun global. Pendidikan harus dibangun dalam keterkaitannya secara fungsional dengan berbagai bidang kehidupan, yang masing-masing memiliki persoalan dan tantangan yang semakin kompleks. Dalam lima tahun ke depan, pembangunan pendidikan nasional harus dilihat dalam perspektif pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Dalam perspektif demikian, pendidikan harus lebih berperan dalam membangun seluruh potensi manusia agar menjadi subyek yang berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Dengan mengetahui apa itu SIG dan manfaat diterapkannya SIG serta komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat SIG, dapat kita ketahui bahwa peran SIG dalam pendidikan adalah sebagai berikut :
Pemerataan dan perluasan akses pendidikan
Peran ini dapat dilakukan dengan adanya pemetaan sekolah (School mapping) yang apabila disinergikan dengan pemanfaatan GIS, akan diperoleh suatu sistem yang mampu mendata daerah atau wilayah mana saja yang belum terlayani pendidikan secara baik untuk diberikan solusi (seperti : pemberian block grant). Sehingga program-program yang direncanakan bisa tepat sasaran. Di samping itu penentuan letak sekolah baru dapat dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa data (penduduk usia sekolah) dengan peta (peta jaringan jalan, peta tata guna lahan, peta kawasan industri) sehingga dapat diperoleh perencanaan pendidikan yang komperehensif. Fungsi overlay, query, buffer yang dimiliki SIG akan sangat membantu pada proses ini. Dalam hal ini terbukti pada kasus Program Rehabilitasi dan Rekontruksi di Aceh pasca gempa bumi dan gelombang tsunami.
Peningkatan mutu pendidikan
Dengan program aplikasi SIG ini maka dapat memberikan kemudahan pada siswa dalam belajar geografi. Apalagi SIG sekarang adalah sebuah layanan public yang opensource atau gratis yang bisa diperoleh setiap saat melalui internet, sehingga dengan demikian SIG dapat diakses oleh seluruh siswa dimana saja berada. Dimana Geografi adalah ilmu yang mempelajari permukaan bumi dengan menggunakan pendekatan keruangan, ekologi, dan kompleks wilayah. Adapun fenomena yang diamati adalah dinamika dari adanya perkembangan dan pembangunan wilayah yang ada dalam kehiduapam masyarakat, misalnya informasi mengenai letak dan persebaran dari kejadian-kejadian alamiah maupun fenomena terdapatnya sumberdaya. Ketersediaan data yang bersifat geografis adalah merupakan arti dari sebuah keruangan, yang mana hal ini akan memudahkan dalam bebagai macam kepentingan. Pengetahuan mengenai informasi geografi penting dimiliki oleh masyarakat luas sebagai bagian pemahaman mengenai sumberdaya maupun kerentanan bencana yang mungkin terjadi di sekitarnya
Perencanaan pendidikan yang diselaraskan atau sejalan dengan potensi dan pengembangan wilayah
Dengan menngunakan aplikasi program GIS, maka dapat ditentukan potensi lokal apa saja yang dapat dikembangkan oleh suatu wilayah. Dan untuk menyediakan SDM yang bertugas mengembangkan wilayah, pembangunan pendidikan harus disesuaikan dengan potensi wilayah agar output yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk mengolah potensi tersebut, terutama di bidang pendidikan dapat menentukan kurikulum dan muatan lokal apa yang akan dimasukan dalam pengajaran di sekolah dan penentuan lokasi serta jenis sekolah kejuruan apa yang cocok bagi daerah tersebut. Misalkan penentuan lokasi dan jenis sekolah menengah kejuruan perikanan dan kelautan bagi wilayah masyarakat pesisir laut dan sekolah pertanian dan perkebunan menengah atas (SPP-MA) bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkebunan atau dilereng pegunungan.
Kegiatan Evaluasi dan Monitoring Pendidikan.
Dengan GIS, evaluasi dan monitoring pendidikan sangat mudah dilakukan. (seperti : Pembagian daerah binaan/ rayonisasi untuk memudahkan pengawasan atau pemerataan layanan pendidikan sehingga tidak ada kesenjangan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain).
Pendukung pelaksanaan kegiatan Otonomi pendidikan di masing-masing daerah sesuai dengan karateristik dan potensi lokal.
Dengan diberlakukannya tentang undang-undang otonomi daerah, maka penerapan program GIS ini dapat memberikan wadah dan jalan bagi pemerintah daerah untuk berkreasi sesuai dengan kebutuhan daerahnya bagi sifat dan karateristik pendidikan di setiap daerahnya
Pendukung pelaksanaan UU. No 20 Tahun 2003 (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional).
Berkaitan dengan luasnya wilayah bangsa Indonesia, maka dengan menggunakn program alikasi GIS ini akan dapat mendukung pelaksanan sistem pendidikan nasional, yakni dengan maksud bahwa pendidikan dapat dilaksanakan tidak hannya dengan pendidikan formal, tetapi dapat juga dilaksanakan di luar sekolah atau tempat lain yang dianggap menungkinkan dijangkau oleh seluruh lapisan masayarakat pada suatu daerah, sesuai dengn karateristik daerah tersebut.
Wadah Penanaman Wawasan Kebangsaan Sejak Usia Dini.
Dengan diperkenalkannya GIS di dunia pendidikan baik itu dapat wujud awal yakni pelajaran geografi, maka dapat dijadikan sebagai wadah dalam penanaman wawasan kebangsaan bagi setiap warga negara sejak dini mungkin yakni melalui semua jenjang dan jalur pendidikan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Hartono,rudi.2013.Komponen sistem informasi geografi
Gurugeobandung.blogspot.com/2013/09/kompone-sistem-informasi-geografi-sig.html?m=1
Dani. 2011.PEMANFAATAN SIG DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Danisihwinunggal.blogspot.com/2011/12/pemanfaatan-sig-dalam-dunia-pendidikan.html?m=1
Langganan:
Postingan (Atom)