Senin, 15 Mei 2017

LAHAN RAWAN LONGSOR WILAYAH WONOSALAM
Akhir-akhir ini banyak wilayah di Indonesia khususnya pulau Jawa terjadi tanah longsor, hal ini tidak lepas dari kesalahan manusia yang kurang bijak dalam memanfaatkan tanah. Saat ini banyak lahan didaerah bukit dan kaki gunung yang seharusnya merupakan wilayah hutan sudah diubah menjadi kawasan pertanian, sehingga sering terjadi bencana tanah longsor karena hilangnya vegetasi pohon yang mampu menahan tanah dan menyerap air.
Sebenarnya bencana tanah longsor dapat diantisipasi dengan memanfaatkan sistem informasi geografis (SIG), dengan membuat rancangan SIG kita dapat mengetahui area-area yang ada di Wonosalam yang rawan terjadi longsor berdasarkan data-data yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk mememukan atau membuat informasi tersebut.
Pembuatan SIG bertujuan untuk mengetahui wilayah-wilayah yang rawan terjadi longsor di wilayah Wonosalam, guna  diantisipasi untuk dilakukan upaya pencegahan dan rehabilitasi lahan. Sehingga peristiwa bencana tanah longsor dapat diminimalisir. Rancangan ini dapat digunakan oleh pihak perhutani wilayah setempat untuk mempermudah pemeliharaan dan rehabilitasi lahan yang rawan akan terjadinya bencana tanah longsor.
Tahap awal yang dibutuhkan dalam membuat rancangan SIG adalah mungumpulkan data, karena pada dasarnya dalam membuat rancangan SIG yang dilakukan adalah mengelola data-data yang saling mendukung yang disatukan atau dikaitkan menjadi sebuah kesimpulan atau informasi baru. Semakin banyak dan lengkap data yang didapatkan maka akan semakin akurat pula kesimpulan atau informasi yang didapatkan.
Data yang dibutuhkan dalam membuat rancangan SIG yaitu berupa peta wilayah wonosalam kota jombang peta dapat dapat berupa peta cetak maupun peta web yang disediakan google  melalui google maps API yang bisa kita dapatkan secara gratis, dan data yang merupakan faktor berpengeraruh terhadap longsor, diantaranya kemiringan lereng, vegetasi, curah hujan. Data kemiringan lereng dinyatakan dalam satuan derajad, data curah hujan yang digunakan yakni data curah hujan bulanan selama 10 tahun, data vegetasi yang digunakan yaitu kerapatan dan jenis tanamannya yang tumbuh di area tersebut
Data curah hujan bisa didapatkan melalui lembaga yang berwenang yaitu BMKG dalam melakukan pengambilan data. Untuk data kemiringan lahan yang belum tersedia dapat dilakukan pengambilan data dengan cara pengukuran melalui perhitungan sederhana pada jumlah dan jarak kontur peta rupa bumi wilayah Wonosalam. Sedangkan data vegetasi lahan dapat diambil secara langsung dengan melakukan pengamatan pada lapangan baik tanpa alat atau mengguakan alat penginderaan seperti drone atau melalui gradasi warna peta rupabumi bakosurtanal wilayah wonosalam, namun pengamatan secara langsung lebih disarankan karena akan didapatkan data yang lebih akurat.
Pengambilan data hanya sebatas wilayah dengan nilai faktor tertentu misalkan wilayah yang memiliki kemiringan 30 derajad. Hal ini dapat dilakukan karena kemiringan lereng dianggap sebagai faktor utama terjadinya erosi yang merupakan awal tanah longsor sehingga kedudukannya dapat dijadikan sebagai patokan yang membatasi faktor lainnya. Selanjutnya setiap wilayah yang memiliki kemiringan wilayah 30 derajad atau lebih dapat di titik atau mark untuk diambil koordinatnya.
Perlu diketahui bahwa data yang diperoleh tidak bersifat tetap, namun akan selalu berubah setiap saat meskipun dalam rentang waktu yang relatif lama. Maka diperlukan pembaruan data dalam rentang waktu tertentu misal lima atau sepuluh tahun sekali, sehingga informasi akhir yang diberikan dapat mendekati kebenaran dan dapat dipertanggung jawabkan.
Setelah data telah dikumpulkan tahap berikutnya yakni mengelola data, dalam membuat rancangan SIG pengelolaan data merupakan pekerjaan inti yang akan menetukan hasil akhir tergantung pada metode dan kemahiran orang yang mengoperasikan.
Semua data yang didapatkan akan dimasukkan dalam database dan diberikan bobot nilai. Bobot nilai yang diberikan dapat berupa bilangan bulat maupun desimal, misalkan bobot nilai akumulasi tertinggi adalah 10 maka nilai akan dibagi berdasarkan faktor yang paling mempengaruhi. Nilai teringgi yang dapat diberikan yaitu 5 utnuk kemiringan lereng, 2 untuk curah hujan, dan 3 utnuk vegetasi. Setiap faktor bobot nilai yang didapat dalam satu titik wilayah selanutnya akan akumulasi sehingga menunjukkan indeks kerawanan wilayah tersebut yang paling berpotensi terjadi longsor. Data yang telah lengkap selanjutnya dapat diurutkan sesuai tingkat indeks yang didapat pada masing-masing area mulai dari yang paling tinngi atau yang paling rendah.
Selain dirutkan berdasarkan tinngi rendahnya, akumulasi bobot nilai juga dapat dikategorikan menjadi beberapa kelas seperti area sangat rawan, area rawan, dan area berpotensi sehingga pengambilan keputusan atau tindakan yang akan dilakukan dapat lebh tepat dan spesifik pada suatu area tertentu.
Tahap terakhir dalam membuat rancangan SIG yaitu penyajian informasi yang mudah dibaca dan dipahami oleh orang lain yang melihatnya. Meskipun bukanlah hal yang inti dalam rancangan SIG namun sajian akan dijadikan sebagai penilaian bagus tidaknya sebuah rancangan.
Data dalam database dimasukkan pada peta sesuai titik kordinat masing-masing wilayah kemudian pada peta akan mucul titik-titik dimana area lahan yang rawan terjadi bencana tanah longsor. Titik-titik pada peta juga dapat diberikan gradasi warna, misal dari warna muda atau cerah hingga warna tua atau gelap sehingga informasi lebih mudah dibaca pada peta dengan melihat warna titik-titik yang mendandakan area rawan longsor beserta data yang ada didalamnya.
Setelah semua pengelolaan data selesai dapat ditarik kesimpulan dari penggabungan data yaitu tingkat kerawanan atau daerah yang paling rawan hingga area berpotensi terjadi bencana tanah longsor di wilayah Wonosalam berdasarkan faktor kemiringan lahan, curah hujan, dan vegetasi di area tersebut.